Saya sedang kangen masa-masa dulu. Masa sekitar akhir 2009 dan awal 2010. Kenapa saya kangen masa itu? Karena pada masa-masa itu saya bisa menulis sebebas-bebasnya. Saya menulis tanpa berpikir. Dan hasilnya? Well, bisa dibilang cerpen-cerpen terbaik saya ditulis pada masa-masa itu.
Apakah itu berati cerpen saya yang sekarang tidak baik? Apakah itu berati sekarang saya tidak bisa tidak berpikir? Apakah itu berati saya selalu berpikir? Terlalu banyak berpikir, mungkin?
Sepertinya, semua jawaban pertanyaan di atas adalah IYA.
Hikss… Huaaa >_<
Lalu, apakah terlalu banyak berpikir itu jelek? Dan apa yang membuat saya jadi banyak berpikir?
Euuhhhh…. Tuuu kaaannnn…. Mikir muluuuu…. Hadeeeehhhh T_T
Begini.
Dulu saya menulis tanpa mempertimbangkan apapun, termasuk siapa yang akan membaca tulisan saya. Saya sama sekali tidak berpikir. Baik itu menulis cerpen maupun postingan di blog.
Dulu blog saya sepi komen (sekarang juga sama sih. Hehe ). Saya sih nggak begitu peduli soal komen. Lah saya nulis itu buat nyenengin diri saya sendiri kok. Jadi ya nggak peduli apakah dibaca orang lain atau tidak, apakah dikomenin atau tidak. Sebodo.
Lalu, soal cerpen pun sama. Saya nulis ya nulis aja. Enggak mikir apapun. Saya bahkan tidak memikirkan dampak dari cerpen saya. Apalagi soal pesan moral. Hedeeeehhh. Pesan moral? Kucing tetangga bisa ketawa deh kalau saya yang sableng gini ngomongin moral >_<
Saya masih belum menentukan sikap. Maksudnyah, saya nulis cerpen remaja sama banyaknya dengan saya nulis cerpen dewasa. Saya nulis yang saya suka. Udah itu aja pertimbangan saya (eh itu bukan pertimbangan yak?).
Saya belum bisa seperti Mbak Niken. Kalau Mbak Nik, dia memilih genre remaja karena memang punya misi dan visi. Dia ingin “mendidik” remaja melalui pesan-pesan yang disampaikannya melalui novel yang ditulisnya. Oh, Tuhan…. Alangkah mulianya, Mbak Nik ini….
Seandainya saya bisa seperti itu…. #sigh
Seiring berlalunya waktu (halah), saya pun tau kalau blog saya itu dibaca lumayan banyak orang. Senangkah saya ini? Well, di satu sisi, saya tentu senang sekali. Ya ampuuunnn tulisan saya yang enggak mutu itu dibaca banyak orang! Gila kan? Ada yang mau menyisihkan waktunya untuk membaca curhat nggak penting saya. Wuih, sip markosip dah kalau diliat dari sisi ini.
But then, apa sisi lain yang membuat saya galau? (halaaahhh…. galaauuu :D)
Cerpen saya yang remaja dan yang dewasa saya taruh semua di blog. Saya nggak mikir apapun saat saya simpan semua di blog. Itu hanya dokumentasi yang memudahkan saya untuk mengambilnya lagi saat saya butuh atau saat ada yang minta ke saya karena pengin baca. Udah, cuma itu aja.
Postingan di blog pun beragam. Kalau postingan ya hampir semuanya dewasa. Lah ya iyalah, secara saya ini walaupun kepingin mengaku remaja, toh wajah saya tak mendukung. Hekekekek :D
Naaahhh apa yang membuat saya galau?
Ternyata oh ternyata…. Seperti cerpen dan postingan saya yang beragam, pembaca saya pun beragam. Hiks huaaaa…. T_T
Loh kok nangis?
Iyaaa…. Lah ternyata ada anak SD yang ngikutin blog saya. Huaaa….
Saya mumeeeettttt…. T_T #nangisdeh
Dan kemudian saya juga tau lumayan banyak anak SMP dan SMA yang baca blog saya. Itu berati baca postingan dan cerpen saya. Kalau anak SMP dan SMA sih saya nggak gitu kuatir. Lah anak SD itu looohhh…. Hiks….
Memangnya kenapa?
Gini. Saya jadi berimajinasi. OK, dalam imajinasi saya kali ini, saya jadi ibu dari seorang anak perempuan berusia SD (maksudnyah usia anak yang sekolah SD). Oya, saya di sini bukan saya yang sekarang yah. Bukan Swistien, tapi ibu-ibu dengan nama lain. Apa ya enaknya nama buat saya yang ibu-ibu dengan anak SD ini? Ah, yang penting bukan Swistien dah.
OK, lanjut imajinasinya. Anak saya yang masih SD itu suka baca. Karena saya ibu yang perhatian dengan minat anak, saya fasilitasi dia dengan langganan majalah remaja dan juga internet (percayalah anak kelas 4-6 SD sekarang itu enggak mau lagi baca majalah anak semacam BOBO. Zaman sekarang BOBO itu untuk bayi. Hekekekek ).
Trus anak saya yang manis ini baca tulisan seorang penulis bernama Swistien Kustantyana di majalah remaja. Trus anak ini jatuh cinta sama cerpen si Swistien itu (yang tentu saja remaja karena ada di majalah remaja). Trus karena anak saya ini anak generasi internet, dia uberlah nama Swistien Kustantyana dengan bantuan si Om Google.
Dapatlah dia alamat blog dan facebook si Swistien ituh. Di-addnya si Swistien itu di fb dan diikutinya blog si Swistien dengan setia.
Sampai pada titik ini, saya belum tau tentang Swistien. Ingat, saya di sini itu ibu seorang anak SD ya. Kemudian, saya tau tentang Swistien setelah anak saya datang ke saya dengan pertanyaan seperti di bawah ini:
Anak: Ibu, kenapa laki-laki itu tutup mata saat orgasme?
Saya: Apa? (saya berpikir mungkin telinga saya salah dengar).
Anak: Iya, Ibu.Kenapa laki-laki selalu tutup mata saat orgasme?
Saya: Hah? Kamu tau dari mana? (mengernyitkan kening).
Anak: Itu, Bu. Aku baca cerpen. Judulnya Perempuan Api.
Hadooohhhhh…. Itu yang ada di imajinasi saya sekarang iniiiii…. Saya nggak mau lanjutin imajinasi itu karena saya takut si Ibu yang adalah saya sendiri di imajinasi itu kemudian akan membawa golok dan nyamperin saya di kos.
“Kampret! Kamu sudah racuni pikiran anak saya dengan tulisanmu ituuuuhhh!!!” Ciaaattt… Pletaaakkk…
Golok terayun. Kepala saya terbelah jadi dua. Darah berhamburan. Saya pun mati sudah.
Hadeeehhhhh…. Ampun dijeeeee…. T_T
Gimana iniiihhhh…. What should I doooo? Apakah saya harus memilih salah satu? Jalan menuju keremajaan atau jalan menuju kedewasaan? (Hayah. Gubrak.)
Aih…. Betapa saya merindukan masa lalu…. Masa di mana saya tak perlu berpikir serumit ini…. T_T