yoyoy! saya menemukan sesuatu yang menakjubkan. dan karena saya baik hati, saya akan membaginya dengan kalian ;)
catatan: kadar menakjubkan tentu saja berbeda bagi tiap orang. akakakak :D (catatan ini dibuat sekedar untuk pembelaan penulis jika nanti di akhir postingan ada satu di antara kalian menjadi kecewa karena ternyata temuan saya tidak menakjubkan :D)
well, let’s start!
mari kita bicara tentang seks. eh, seks? nggak salah nih puasa ngomongin seks?
enggak. abisnya kalo ditunda nanti setelah bulan puasa takut keburu lupa. lagian ini bahasan yang (lumayan) ilmiah kok. hwikikiki :D
gini. karir saya dalam drama seri korea sudah lumayan ok. saya sudah mengkhatamkan beberapa judul. begadang sampai pagi pun saya lakukan demi oh demi menimba ilmu #preeettt.
nah. yang pengin saya bahas di sini memang tentang seks. atau sex. whatever.
ada tiga judul drama seri yang menarik perhatian saya sehubungan dengan seks tersebut: winter sonata (korea), personal taste (korea) dan tokyo love story (jepang).
iya, debut karir drama seri jepang saya baru dimulai dengan menamatkan tokyo love story. ahahahah :D
mari mulai dengan winter sonata.
drama seri ini bukan drama seri korea yang pertama kali saya tonton, tapi menjadi yang pertama yang mencuri perhatian saya. karena apa? lah karena aneh. anehnya itu dalam cerita ada bumbu-bumbu seks gitu. tapiiiii nggak jadi-jadi. bisa dibilang mau-mau tapi malu. atau mau tapi malu-malu?
banyak yang tergila-gila dengan winter sonata. tapi saya enggak. plotnya muter-muter nggak karuan. terlalu membosankan. terlalu dibuat-buat. terlalu banyak kebetulan. yeaaaa tapi saya menontonnya sampai akhir tanpa melewatkan satu episode pun. ahahahah :D
yang membuat winter sonata aneh itu ya karena di beberapa bagian ada adegan mau have sex gitu. tapi nggak jadi-jadi. hadeeehhhh. saya sampai tepok jidat deh. jadi nggak sih ini have sex nya? apa memang dibuat gitu ya biar penonton gemas gitu? hakakakak^^
well, pokoknyah di winter sonata masih ada ewuh untuk have sex gitu (ewuh itu apa ya bahasa indonesianya?). ya masih ada rasa nggak enak. masih menanggap seks itu tabu atau gimana gitu. itu yang saya tangkap loh.
waktu nonton winter sonata, saya sampai bertanya-tanya, “ini film dibuat tahun berapa yak? settingnya tahun berapa? kok have sex maju mundur nggak karuan gitu.” hekekekk^^
kemudian saya nonton personal taste. ya Tuhaaaannn lee min ho itu sekseeehhhh. dia itu ciakep luar biasa. saya sampai terbayang-bayang >_<
ok, hentikan, tien. kita nggak bahas lee min ho. tapi sex! okok :D
nah, personal taste ini drama seri korea baru. saya tau itu dari teman-teman. dan ya keliatan dari cara berpakaian dan berdandan. memang style masa kini gitu. (fyi, jas-jas yang dipake lee min ho itu nggak kalah cakep sama orangnya. jenius deh perancang jas si lee itu :D).
nah lagi, jin-ho dan gae-in yang sejak awal pacarannya “cuma” ciuman doang, akhirnya toh have sex. walaupun di drama seri ini ceritanya tidak langsung menunjukkan bahwa seks itu sesuatu yang boleh dilakukan di mana saja kapan saja dengan siapa saja #eh saya mulai ngawur….
maksudnyah, personal taste masih menyampaikan bahwa seks itu bukan sesuatu yang gampang dilakukan oleh siapa saja. masih ada cewek seperti gae-in yang keukeuh nggak mau have sex. awalnyaaa…. tapi setelah pacaran sama lee min ho, toh dia have sex juga (ya iyalaaaahhhh…. nggak kuuuukuuuuu. hekekekek :D).
sampai di titik ini, saya pun mulai membandingkan personal taste dengan winter sonata. dari berbagai sudut pun sudah ketauan kalo personal taste jauh lebih baru daripada winter sonata yang jadul itu. tapi pertanyaan yang bergaung di hati saya tentang “kapan sih winter sonata dibuat” belum menggerakkan tangan saya untuk meng-google jawabannya.
naaaahhh, saya baru selesai menonton tokyo love story. dan akakakakak saya ngakaaaaakkkk =))
saya ngakak terus menerus selama nonton drama seri jepang ini. saya juga nggak berhenti berdecak. lah kenapa coba?
yeeaaaa sex itu menjadi isu utama di drama seri ini. gilaaa…
gila karena tokyo love story itu drama seri yang super duper jadul. saya masih ingat saya dulu nonton tokyo love story di indosiar saat saya masih SMP. bayangkan, SMP! hedeeehhhh jadul amat yak?
saya masih ingat dengan baik karakter-karakter di drama seri ini. dan saya jatuh cinta setengah mati sama mikami (dulu, waktu SMP. sekarang enggak. hehe^^).
tapi saya sama sekali nggak ingat kalo ada isu sex di drama seri ini. apa dulu dipotong sama indosiar yak? berati banyak banget adegan yang dipotong dong? huahahahahah :D
akhirnya saya pun mempelajari ketiga drama seri ini. guess what, temuan ini yang saya bilang menakjubkan.
winter sonata diproduksi tahun 2002.
personal taste diproduksi tahun 2010, berdasarkan novel “Gaeinui Chwihyang” (2007).
tokyo love story diproduksi tahun 1991.
1991, sodara-sodara! huahahahaha. saya ngakaaakkkk.
ajib gilaaa sodara-sodara kita di jepang sudah semaju itu dalam kebudayaan yak? di tahun segitu drama serinya sudah menayangkan budaya tinggal bersama dan have sex dengan sangat lugas.
hey, please dont get me wrong. jangan salah sangka. saya tidak menghujat siapapun atau apapun di sini dan saya juga tidak mengamini (saya tengah aja deh ;) ). saya hanya ingin berbagi perasaan takjub yang saya rasakan ini. hehe :D
gini, kalo tinggal bersama dan have sex di negara barat itu udah nggak aneh lagi kali ya. sejak dulu ya memang gitu. tapi saya nggak nyangka di jepang juga sudah segitu majunya (sejak dulu kala).
bahkan korea pun tertinggal jauh. hekekekek :D
dan saya ngakak-ngakak saat melihat rika akana, karakter utama cewek di tokyo love story. rika itu sintiiiiinggg. dan saya suka orang yang sinting. kakakakak :D
lah gimana enggak sinting, rika ini dengan gamblangnya bilang ke kanji “let’s have sex!”. pas adegan itu, pas liat ekspresi kanji (dia berasal dari desa dan baru pindah ke tokyo), saya ngakak luar biasa.
it’s so greaaaaatttt! keren dah! hekekekek. saya sukaaaa….
jangan salah sangka lagi. bukannya saya mendorong semua cewek yang membaca ini untuk bilang dengan gamblang “let’s have sex” ke siapapun cowok yang ditemui (euuhhh), tapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa penulis cerita ini sudah sedemikian maju dalam berpikir karena dia mengangkat isu feminisme.
saya hanya melihat dari segi kesetaraan aja. bagi saya itu keren, karena toh nggak cuma cowok yang bisa ajak have sex. cewek juga bisa loh. kakakakak.
oh ya, jangan trus abis baca postingan ini langsung berburu tokyo love story karena berharap akan melihat adegan mesra gitu. hwikikiki. sama sekali nggak ada adegan semacam itu. beneran.
gini. di personal taste, ada banyak sekali adegan romantis (iyalah gila hari gini drama seri korea nggak romantis? mana adaaaa…. ^^). romantisme ditunjukkan melalui gambar. adegan. visual gitu. bukan verbal.
beda banget saat menonton tokyo love story. adegan romantis kagak ada! ciuman aja nggak di-slow motion. (jaaahhh ketauan deh penyuka adegan kissing-slow-motion :D).
masak iya adegan ciuman diambil dari atas atau belakang. jadi keliatannya cuma rambut pemainnya doang. beda sama personal taste yang bibirnya keliatan. gyahahahah :D
di tokyo love story, sex ditunjukkan melalui bahasa verbal. bukan visual.
ini juga yang menjadi pembelajaran saya bahwa tahun segitu walopun toh kebudayaan mereka sudah segitu majunya dengan “membolehkan” tinggal bersama dan have sex dan lalu menunjukkannya di serial TV, tapi tidak segitu majunya untuk menayangkan adegan romantis itu secara gamblang.
itu bedanya jepang di tahun 1991 dan korea di 2010. hehe ^^
balik ke tokyo love story. drama seri ini sangat menarik karena benar-benar mengangkat isu feminisme. karakter utamanya adalah rika akana, cewek yang sangat mandiri, cerdas, ceria, bla bla bla.
tapiiii saya nggak demen endingnya.
sebel dah kalo ngomongin ending tokyo love story. jadi, menurut saya (menurut saya loohhhh), saking penginnya menunjukkan bahwa cewek itu kuat, dibuatlah si rika ini sendirian. mantannya, si kanji, akhirnya menikah dengan sekiguchi – cewek yang dicintai kanji sejak remaja.
menurut saya (lagi), ending ini seperti pisau dengan dua sisi mata pisau (eh, membingungkan. itu belatikah?). ya pokoknya gitu deh.
di satu sisi, rika akana yang kuat itu akhirnya ya sendirian. hell, cewek kuat mana butuh cowok sih? dia cerdas, mapan, bla bla bla. figur keren seorang feminis kan?
tapi di sisi lain, dengan kanji memilih sekiguchi yang ah-enggak-banget-deh (lemah, menye-menye, tergantung sama kanji), bukannya itu menunjukkan stereotipe cowok yang tidak mendukung cewek maju ya?
eh maksudnya, cowok dimana-mana ya gitu. inferior. enggak acik. takut sama cewek hebat. lah trus sisi feminismenya di mana? dukungan untuk feminismenya di mana? heran saya.
kalo saya yang buat tuh drama seri, pastilah saya jadikan si kanji milih rika. gila apa, kurang apa dia. udah cerdas, menyenangkan, bla bla bla.
yeah, di satu adegan ada kali kanji bilang kalo dia yang tergantung sama rika. dan yeaaahhh itu yang buat dia enggak jadi milih rika untuk dinikahi. dia lebih milih sekiguchi yang butuh perlindungan itu.
hell, kan?
bukannya itu menunjukkan cowok itu tidak suka cewek kuat? tidak mendukung feminisme gitu? hadooohhhh. heran sayaaaa… #garuk kepala.
yeaaa walopun toh di wikipedia itu ada info bahwa kanji memilih sekiguchi karena rika pernah hamil anak bosnya (di manga/komiknya, tapi nggak diliatin di drama serinya), tapi toh tetap saja menyebalkan.
di sini juga terlihat bahwa kanji lebih menggunakan hati daripada logika. lah katanya cowok itu lebih main logikanya. mana ada di sini. hadeeehhh. saya jadi mumet.
euuuhhhh, karena saya mumet, itu saja laporan saya. enggak tau lagi mau nulis apa. saya masih sebel karena rika yang kuat itu akhirnya sendirian >_<
duh gusti… lee min ho itu terbuat dari apa sih? ciakeeeppp >_<
numpang komen yaah,
dikasih link ini sama sentiela. lucu juga.
tadi udah nulis, tapi eror :p :(
mau share aja. kebetulan dulu pernah gaul sama anak2 korea waktu di luar.
setahu saya sih orang-orang korea lebih mengutamakan hubungan hati daripada keaktifan hubungan fisik.
Yah memang lumrah banget kalau ciuman mah. mau cium pipi sampe french kiss, khatam deh.
tapi jarang melakukannya di publik. masih gede malu.
Sementara untuk kehidupan sex nya gak segitunya.
Paling yah sama pacar/tunangannya yang mana biasanya waktu bersama mereka udah cukup lama.
jadi ya mirip2 sama yang ditampilkan di drama2nya.Budaya sopan santun mereka lumayan miriplah sama kita.
pasangan yang sering kissing belum tentu sering make love juga, bahkan bisa jadi justru gak pernah.
Dua aktifitas itu benar2 dalam tahap yang berbeda.
When it downs to sex, it’s already damn serious.
Kurang lebih gitu.
Yaah kalau mau compare Winter Sonata sama Personal Taste mah susah.
Ada faktor masa, genre drama, target penonton…dll. Jangankan drama beda masa, drama semasa aja bisa beda presentasi sexualnya.
oiya sementara untuk Jepang, gak begitu ngerti sih.
Cuma banyak yang nulis dan ngomong kalau orang2 lebih cabul.
Kecabulan mereka itu bersembunyi-jelas (rahasia publik, macam fenomena operasi kelopak mata) di bawah permukaan mereka yang kaku dan dingin.
Cuma harus di kroscek lagi sih.
Seneng sama Lee Min Ho?? Kalau begitu wajib nonton drama terbarunya: City Hunter.
Kalau menurut saya yah, Lee Min Ho itu belum ada apa2nya waktu di drama Boys After Flower atau Personal Taste.
Baru di City Hunter deh dia qualified dibilang one of Korean sexy men alive. :D
Anyway, salam kenal,
Rizz.
PS: in your spare time, please visit http://www.kdramachoa.com
Lee min ho mirip Andy lou, si Yoko. Ya, kan???
aku lebih suka bae yong jun daripada lee min ho.
winter sonata emang muter2 ceritanya. dan beberapa kebetulannya gak logis. tapi aku suka setting tempat dan musiknya. my memory menyayat hati. hehe, yang menyayat hati musiknya bukan ceritanya.
tokyo love story dorama pertama yang kutonton. meskipun udah jadul, aku masih ingat endingnya. karena menurutku sangat mengesankan. walau bikin geregetan, tapi aku suka.
aku juga masih ingat lagunya. yuk, kita nyanyi bersama, mba.
di hari itu dan di tempat itu, bila kita tak pernah berjumpa. mungkin kita tak akan percaya. kau dan aku saling suka dan cintaaa…
kenapa ya cowok kalem lebih suka cewek yang kalem. bukannya cewek ceria akan melengkapinya. contohnya aja kanji suka satomi yang kalem dalam tokyo love story. dan sena awalnya suka ryoko yang kalem, walau akhirnya suka juga sama minami.
aku suka dua dorama itu, tokyo love story dan long vacation. kalo diperhatikan, ternyata tokoh2 utamanya berwatak mirip. (rika akana = minami) (kanji = sena) (satomi = ryoko). ya, kan?