there is always first time for everything.

bukankah katanya seperti itu? selalu ada saat pertama untuk segalanya. saya percaya saja.

and it happened to me a few days ago. setting tempatnya di kantin kampus tempat saya belajar. setting waktunya pagi hari dengan banyak orang di sekeliling dan beberapa berlalu-lalang.

salah satu teman saya marah besar. salah saya memang, karena saya mengutak-atik lagi masa lalu yang ternyata dianggap tabu (tabu bisa berati tak boleh dibicarakan lagi, bukan?).

begitulah. saya memang salah. tapi saya tak mengira kesalahan saya itu harus dibayar dengan harga sedemikian besar, yaitu ditunjuk-tunjuk dengan jari telunjuk tepat di wajah saya dengan deretan kalimat seperti di bawah ini:

“kamu itu bullshit! kamu egois! kamu selalu bilang teman-teman kamu enggak care sama kamu! padahal kamu sendiri yang enggak care sama teman-teman kamu! mau saya kasih contohnya? dasar bullshit! egois!”

wew.

29 tahun lebih saya hidup di dunia fana ini dan baru kali itu saya dikatain bullshit. di tempat umum pulak. di depan banyak orang pulak. ckckck. masih untung ya saya nggak kena serangan jantung saat itu juga. akakakak.

seperti kerupuk yang tersiram air, saya pun melempem. mengerut. ingin sekali lenyap ditelan bumi.

saya menangis sembari tak henti-henti menyalahkan diri saya sendiri. saya betul-betul sibuk menyalahkan diri saya sendiri sepanjang sisa hari itu (saya mbolos kelas siang).

kenapa saya begitu jahat. kenapa saya begitu buruk. kenapa saya egois. kenapa saya nggak care. kenapa saya sebegitu bullshitnya. kenapa saya kenapa saya kenapa saya.

dan banyak kalimat dengan kata pertama kenapa itu berakhir pada satu kesimpulan mutlak: bahwa saya bukan teman yang baik.

kesimpulan itu membuat saya menangis lebih bombay lagi. dan tangisan yang nggak brenti-brenti itu mampu membuat saya mengirimkan beberapa sms yang sama kepada beberapa sahabat saya.

saya tidak memforward satu sms untuk semua umat. tidak. seingat saya, saya mengetik setiap sms yang saya kirim ke sahabat-sahabat saya itu.

apa sih isi sms saya?

“XXX, aku sayang kamu.”

cuma itu.

ah saya menangis sekarang.

kenapa sih saya sampai lebay seperti itu? well, karena saya betul-betul menyayangi sahabat-sahabat saya itu. karena saya betul-betul berterimakasih kepada mereka. mereka mau menjadi sahabat saya meskipun saya bullshit, egois dan nggak care. mereka…. ah saya sayang sekali sama mereka (sayangi sahabat-sahabat saya ya Tuhan).

tangisan bombay lebay saya tak berhenti juga meskipun para sahabat membalas sms saya dengan mengatakan bahwa mereka juga menyayangi saya.

saya pun mengirimkan sms kepada bunda. saya bertanya kenapa bunda mau menjadi sahabat saya padahal saya itu bullshit, egois dan nggak care. kemudian bunda yang baik hati itu pun membalas sms saya dengan kalimat ini:

Because you are totally not the person they said you were. And I really like being your friend :*

ah, bunda itu memang baik sekali.

mmm, sejak kejadian itu saya pun menarik diri. saya jadi introvert. saya takut dikatain bullshit lagi. saya takut jadi egois yang lebih lagi. saya takut nggak care sama teman saya.

saya memperbesar bubble. menendang keluar orang-orang yang berpotensi menyakiti hati saya. dan saya merasa nyaman dengan dunia saya sendiri.

apakah masalah selesai sampai di situ saja?

ternyata tidak.

saya yang menjadi introvert pun menjadi masalah baru.

“lu kenapa jadi introvert sih sekarang?”

“lu kenapa sih menarik diri dari temen-temen?”

“lu bisa nggak sih santai aja?

“lu bisa nggak sih nggak usah mikir terlalu dalem?”

ah ya ampuuunnn. kalau sudah seperti itu, saya merasa hidup ini susah sekali.

kenapa sih mereka tidak membiarkan saja saya jadi introvert? saya hanya berusaha memproteksi diri saya sendiri. saya tak mau sakit lagi.

dan oya, saya memang takut disakiti. tapi peluang saya untuk menyakiti orang lain itu jauh lebih besar daripada peluang saya disakiti. itu kenapa saya memilih untuk menarik diri. saya tak mau disakiti. tapi saya lebih tak mau lagi menyakiti.

hell…. apakah mereka mau mengerti itu? apakah mereka bisa mengerti itu?

saya merasa frustasi. ah, sudahlah. saya tak bisa memaksa mereka untuk mengerti, kan?

seperti kata lee:

kita tak bisa memaksa orang lain untuk memahami kita. yang bisa kita lakukan hanyalah memaksa diri kita sendiri untuk memahami orang lain.

jadi, seperti itu. begitu saja.

buat yang belum terlanjur kenal saya, mmm, mending jauh-jauh deh. beneran. enggak boong. sumpe de.

saya itu bullshit, egois, nggak care sama teman. jadi potensi saya menyakiti kalian itu besar sekali. you had better stay away, guys.

bullshit (spoken, not polite):
something that is stupid and completely untrue [= rubbish]

- longman dictionary

-pic-