saya sedang serius bekerja. saking seriusnya, saya sampai matikan ym dan fb. tapi tiba-tiba saja di tengah-tengah keseriusan saya bekerja itu, vision tentang yani muncul di kepala saya. jelas sekali.

btw busway…. vision itu bahasa indonesianya apa yak? bukan visi, tapi lebih ke image, imagination. bayangan? imajinasi? pokoknya itu deh.

saya berada di suatu ruangan. saya duduk di belakang yani. dia pake baju putih. di sampingnya ada cowok, pake jas item. yeah, mereka menikah. ijab kabul. dan tiba-tiba saya menangis. beneran nangis melihat yani menikah. rasanya senang sekali. dan juga terharu.

kemudian saya sms yani. melaporkan apa yang saya liat di kepala saya. yani yang baik tentu saja mengamini. lalu kami pun smsan beberapa kali membahas isu pernikahan.

saya dengan gembira memberi tau dia semalam saya mimpi. yeah, ini hal yang membanggakan karena toh saya termasuk yang jarang sekali mimpi dan jika mimpi pun saya seringnya nggak ingat mimpi itu.

di mimpi saya itu ternyata ada cowok yang beneran sayang sama saya, dan ajaibnya saya juga sayang sama dia. itu adalah ajaib karena yeah…. ternyata ada ya yang beneran sayang sama saya dan saya sayang dia. hehe.

setelah itu saya menyampaikan kekhawatiran saya. tentang ketidakpedean saya. well, siapapun yang mengenal saya dengan baik, mereka pasti tau jika rasa percaya diri saya itu nol besar. jika ada yang tidak bisa melihat hal itu, berati dia tidak mengenal saya dengan baik. haha.

saya tidak percaya diri dengan keadaan saya, dengan keadaan keluarga saya, dengan keadaan rumah, dengan banyak hal lain. apakah itu berati saya malu tentang keluarga saya? enggak. bukan begitu. please dont get me wrong.

saya sayang keluarga saya. sangat. saya enggak malu dengan rumah papah mamah yang hampir roboh itu (yeah lebih dari 29 tahun tidak direnovasi). tapi semua akan menjadi lain saat dikaitkan dengan pernikahan.

maksudnya gini. selama ini saya selalu takut untuk benar-benar menyukai seseorang karena yeah siapa sih yang mau sama saya? yang beneran sayang sama saya, yang sayang keluarga saya, yang bisa nerima saya apa adanya.

kenapa bisa saya merasa seperti itu? karena cowok pasti akan mempertimbangkan banyak hal jika itu berhubungan dengan pernikahan. enggak cuma tentang ceweknya aja. i mean, pastilah cowok itu akan liat keluarga si cewek, pastilah akan melihat rumah orang tua si cewek, pastilah pastilah pastilah.

apakah saya berlebihan? tidak. kali ini saya sama sekali tidak berlebihan.

sekitar tengah 2011 saya bertemu seorang teman lama. saat kami bertemu lagi setelah sekian juta tahun tidak pernah saling melihat, kami merasa nyambung. saya menyukainya. dan (sepertinya) dia pun menyukai saya.

tapi kalian tau, semua itu hanya berlangsung dua hari saja. bayang pun! hanya dua hari. jika saya ditanya saya ahli dalam bidang apa, tentulah saya jawab saya ahli cinta kilat. hehe.

kalian tau kenapa hanya berlangsung dua hari? karena si cowok bilang gini:

“tien, gua suka banget sama elu. tapi gua nggak bisa sama elu. lu tau…. keluarga gua itu religius. orang tua gua taat beribadah. gua juga terkenal anak baik di kampung. iya, tien. gua alim di kampung. walaupun gua kadang mabuk dan nakal di sini, tapi di kampung gua alim. iya, gua tau gua munafik. tapi karena semua orang taunya gua alim, gua juga harus nikahin cewek yang alim, yang baik, dari keluarga baik. dan tien, gua kan pernah ketemu bokap elu. bokap elu kan tatoan. bokap elu punya tato, kan? gua nggak bisa. pasti orang tua gua nolak elu dan keluarga elu. blah blah blah….”

BRENGSEEEEKKKKKK!

hingga detik ini saya menyesal sekali kenapa saya tidak meninju cowok brengsek sialan itu. orang tuanya religius? hah! apa hanya dengan mengenakan peci dan kerudung kemudian mereka bisa jadi malaikat gitu? lalu dengan beraninya men-judge siapa yang baik dan siapa yang tidak. lalu berpikir bahwa yang tatoan itu enggak baik.

kampret mereka itu. iya mereka. cowok itu dan keluarganya.

saya menangis di kamar setelah kejadian itu. saya merasa sakit sekali. jika dia memang tidak mau sama saya, kenapa harus sampai bawa-bawa orang tua saya? kenapa harus bilang gitu tentang papah saya? papah saya memang tatoan. tapi itu bukan berati dia bukan orang baik, kan? papah saya orang yang sangat sangat sangat baik. saya tau itu.

saya yang nggak tahan menangis sendirian, akhirnya mengadu ke pendek. saya mengadukan semuanya. dada saya ini sesak sekali. saya betul-betul merasa sakit.

pendek tersenyum mendengarkan cerita saya. kemudian dia berkomentar:

“dia nggak sayang sama kamu. sesederhana itu. kalau dia sayang kamu, dia akan melakukan semuanya untuk kamu. dia akan menerima kamu sama keluargamu. sudah lupakan saja orang seperti itu.

kamu itu sudah jilbaban. lalu apa lagi yang dia cari? kebiasaan burukmu bisa pelan-pelan dihilangkan. tentang papah, itu kan masa lalu beliau. tato itu bawaan dari masa muda. ya sudah, kan. mau apa lagi. setiap orang kan pernah berbuat salah.

sudahlah, tien. dia itu pengecut karena menggunakan alasan papah untuk pergi dari kamu. seharusnya dia bilang aja kalau dia nggak sayang sama kamu.”

saya setuju dengan pendek. seandainya cowok brengsek itu menolak saya dengan bilang dia nggak sayang sama saya, selesai perkara kan. saya nggak akan sebegini sakitnya. kenapa harus bawa-bawa papah saya, sih?

lalu,saya bertanya ke pendek, “aku harus gimana sekarang?”

pendek menjawab, “kamu itu lagi jalan dan tau ada tembok di depan. apa iya kamu mau nabrak tembok itu? kamu milih nabrak tembok atau belok aja cari jalan lain?”

saya tertawa. analogi yang sungguh keren. dengan mantap saya menjawab, “tentu aja belok! masih banyak jalan lain kali.”

iya. saya milih belok aja. saya nggak mau nabrak tembok itu. saya juga nggak mau susah-susah manjat tembok itu. dia, cowok brengsek itu, nggak segitu berharganya.

sejak saat itu saya tak berani lagi naksir serius sama cowok. saya takut. takut luar biasa. saya tidak mau keluarga saya disakiti sedemikian rupa. jika saya sakit, mereka sakit juga, kan?

dan rasa percaya diri saya yang hampir menyentuh dasar sumur, sekarang beneran tergeletak di dasar yang sedasar-dasarnya. benar-benar berada di titik terendah. dan tiba-tiba saya merasa marah sekali dengan pepatah yang berbunyi: kalau mau cari pasangan hidup itu harus dilihat dari bibit bebet bobot.

prek dengan yang satu itu. bibit bebet bobot? hah! sinting yang bilang gitu. memangnya kita bisa milih kita lahir di keluarga mana? memangnya kita bisa milih kita dibesarkan seperti apa, dengan cara apa, dan bagaimana? memang bisa gitu?

nggak tau ya dengan kalian, tapi saya tak bisa memilih keluarga saya. jika akhirnya saya dilahirkan dan dibesarkan di keluarga saya yang selama ini saya miliki, saya anggap itu yang terbaik menurut Tuhan.

keluarga saya bukan keluarga kaya raya. bukan pula keluarga super duper religius. keluarga saya biasa saja. dan papah saya tatoan. lalu kenapa? yeah, my dad has got a tattoo. so what?

saya kemudian merasa kasihan dengan orang-orang yang background keluarganya lebih unik dari saya (saya mengikuti kebiasaan pendek yang selalu menggunakan kata unik untuk mendeskripsikan sesuatu yang aneh atau tidak lazim).

coba bayangkan. jika si A suka si B tapi karena so damn bibit bebet bobot itu A nggak jadi nikahin B karena yeah ayah si B itu penjahat nomor satu di indonesia raya.

itu misalnya ya.

sedih kan? padahal mungkin si B itu baik. mungkin si B itu cerdas. mungkin si B itu punya banyak poin-poin bagus yang bahkan melebihi orang lain dari keluarga yang katanya lebih berkualitas. yeah, hanya karena A atau keluarga si A melihat ayah si B, semua jadi berantakan.

saya jadi mikir. orang-orang itu…. kenapa mereka bisa menganggap mereka lebih baik dari orang lain? kenapa mereka berpikir kualitas mereka lebih keren? kenapa mereka hanya menghargai orang-orang yang sama seperti mereka? kenapa mereka hanya melihat yang tampak saja?

ah, saya tidak mengerti. dari dulu saya diajar bahwa hanya Tuhan yang berhak menilai kita semua. baik atau buruk, Tuhanlah nanti yang menimbang. kita manusia tak punya hak untuk itu. kita juga tak punya hak untuk merasa lebih baik dari orang lain.

itu yang saya tau. atau setidaknya itu yang saya yakini.

dan mungkin itu yang diyakini oleh yani, atau orang-orang yang mau bersahabat dekat dengan saya, yang mau menyayangi saya, yang bisa menerima saya apa adanya, karena yani mengirimkan sms ini:

I know people have said this to you, yet I am saying it anyway. You are smart and your words can inspire, provoke, and make people feel happy and blessed! That’s what I adore about you. And I believe your soulmate will see that, too…. ^_^

ah… saya menangis lagi….

ps. tentu saja gambar di atas bukan papah saya. tato papah nggak segede itu kok….

-pic-