Imaji Faya
Cerpen Swistien Kustantyana
Faya berjalan bergegas. Rintik hujan mulai turun perlahan. Tapi sebetulnya bukan itu yang membuatnya khawatir. Faya sama sekali tak keberatan seandainya tubuh mungilnya kuyup karena hujan. Ia hanya tak ingin kehilangan waktu sedikit pun. Semenit saja Faya tak rela waktunya dengan Kak Pram hilang tercuri. Bahkan jika yang mencuri itu rintik hujan, Faya tetap tak rela.
Faya mulai tersenyum sekarang. Langkah kaki mungilnya terasa begitu ringan saat ingatannya melayang ke sosok bernama Pramono. Kak Pram, begitu Faya biasa memanggil. Sekitar lima tahun lalu saat Faya masih kelas satu SMP, Ayah membawa Kak Pram ke rumah.
“Faya, coba duduk sini sebentar,” Ayah memanggil Faya yang sedang membaca Gadis di sofa ruang tengah. Faya mengangguk, kemudian menyeret kakinya di belakang Ayah.
Di kursi ruang tamu duduk seorang laki-laki berwajah ramah. Ia melemparkan senyum sopan pada Faya. Faya merasa wajahnya memanas. Laki-laki itu manis sekali. Berkulit cokelat dengan hidung mancung dan alis tebal melengkung sempurna. Bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum membuat wajahnya selalu terlihat ramah. Dan Faya suka sekali dengan rambutnya yang agak gondrong.
“Faya,” panggilan Ayah membuat Faya terpental dari lamunan.
“Iya,” Faya baru menyadari Ayah sudah duduk dan sedang memandanginya. Entah sudah berapa lama Ayah melihat Faya terpaku pada laki-laki itu. Faya merasa malu sekali.
Faya duduk di sebelah Ayah dengan wajah menunduk.
“Ini Kak Pram yang akan menggantikan Kak Lisa. Mulai minggu depan Faya akan belajar sama Kak Pram,” pandangan Ayah berganti-ganti antara Kak Pram dan Faya.
Faya mengangguk. Laki-laki yang disebut Ayah sebagai Kak Pram memandang ke arah Faya, tersenyum, dan menyapa, “Hai, Faya.”
Faya tersenyum kikuk. Ayah menepuk bahu Faya. “Kenalan dulu dengan Kak Pram, ya. Ayah tinggalkan kalian berdua. Semoga Faya bisa belajar bersama Kak Pram dan nilai Faya selalu bagus seperti dulu saat belajar dengan Kak Lisa.” Ayah bangkit dari duduknya. “Pram, Faya itu murid yang baik. Mohon bimbingannya, ya.” Setelah Kak Pram mengucapkan terima kasih, Ayah pun berlalu.
Sepeninggal Ayah, Faya merasa semakin kikuk. Dulu guru lesnya adalah Kak Lisa. Faya tak perlu merasa malu seperti ini karena sama-sama cewek. Tapi, Kak Pram kan cowok, Faya mendesah dalam hati.
Faya mengulum senyum lagi. Kenangan pertemuan pertama dengan Kak Pram memang selalu menyenangkan untuk diputar ulang. Rintik hujan yang kian membesar membuat langkah kaki Faya semakin melebar. Kini Faya bahkan setengah berlari.
Sore ini Kak Pram sudah menunggunya di Kafe dekat sekolah. Setidaknya seminggu sekali, Kak Pram meluangkan waktu untuk Faya. Biasanya mereka bertemu di kafe atau restoran, atau malah kadang perpustakaan. Kak Pram sudah terlalu sibuk untuk mampir ke rumah Faya di pinggiran Jakarta.
Mata Faya berbinar-binar menerobos kaca jendela kafe yang transparan. Sosok Kak Pram sudah duduk di dekat jendela. Faya buru-buru membenahi poni dan rambut panjangnya yang lepek karena rintik hujan. Setelah menarik napas panjang, Faya melangkah masuk ke dalam kafe.
“Hai, Kak,” sapa Faya ceria seraya duduk di depan Kak Pram.
Kak Pram mendongak dari laptopnya dan tersenyum melihat Faya. Senyum itu selalu berhasil membuat jantung Faya berdegup lebih kencang.
“Lah, hujan ya?” tangan Kak Pram menyentuh rambut Faya.
Faya memejamkan mata sejenak. Berusaha merekam kejadian beberapa detik itu. Faya pasti akan memutarnya sebelum tidur.
“Sudah Kakak pesankan Hot Milk Coffee. Sebentar lagi datang. Tapi makanannya belum. Faya mau makan apa?” Kak Pram menutup laptopnya. Pandangannya sekarang hanya ke arah Faya.
Faya tersenyum lebar. Salah satu yang begitu disukainya dari seorang Kak Pram adalah fakta bahwa ia bisa membuat Faya merasa istimewa hanya dengan memusatkan seluruh perhatian untuk Faya. Tidak seperti Dito yang matanya selalu jelalatan. Atau Herdi yang selalu mendengarkan tapi matanya entah ke mana. Atau Bima yang selalu sibuk dengan BB-nya walaupun sedang berbicara berdua dengan Faya.
Pokoknya Kak Pram itu beda.
“Faya mau makan omelette aja. Lagi malas makan nasi,” ujar Faya. Telunjuknya mengarah ke gambar omelette di menu.
“Sebentar,” Kak Pram menoleh ke arah waiter, melambaikan tangan. “Pesan satu omelette ya, Mas. Trus tadi udah pesan Hot Milk Coffee. Minta tolong dicek, ya. Kasihan Faya kedinginan.”
Mau tak mau Faya tertawa. “Ih, Kak Pram ini. Ngapain coba kasih tahu si Mas itu kalau Faya kedinginan.”
“Biar cepat. Faya dingin, kan?” Kak Pram menepuk pipi Faya. Faya senang sekali.
“Tahu nggak, Kak?”
“Enggak.”
“Iiiihh, itu kan pertanyaan boongan.Harusnya Kakak jawab `apa?`, bukan `enggak`. Uuuu gimana sih?” bibir Faya mengerucut. Faya cemberut.
Kak Pram tergelak. “Oke, anak manis. Apa?”
Faya tersenyum. “Kak Pram masih ingat Andi Taufan? Yang jalan dari Subang ke Bandung itu?” Faya sangat bersemangat.
“Pacarmu, kan?” Kak Pram tersenyum menggoda.
“Iiiihhh. Bukaaaaaannnn,” Faya cemberut lagi.
“Ahahaha. Oke, oke. Andi Taufan bukan pacar Faya. Dia bikin heboh apalagi?” Kak Pram mengangguk pada waiter yang meletakkan satu gelas Hot Milk Coffee ke depan Faya.
“Terima kasih,” ucap Faya pada waiter. Ia menyeruput kopi susu hangat favoritnya.
“Tahu nggak, masak si Andi itu ngitungin jumlah karakter dalam cerpen Djenar. Dia bilang cerpen empat halaman itu terdiri dari delapan ribu karakter. Andi hitung manual, Kak! Gila, kan? Dia hitung sampai sepuluh karakter. Kalau udah dapat sepuluh, dikasih tanda. Gitu seterusnya sampai delapan ribu. Dia tunjukkin buktinya ke Faya.” Faya berceloteh dengan penuh semangat.
“Ckckck. Andi Taufan memang fenomenal ya. Kenapa sih nggak Faya jadikan pacar aja? Menurut Kakak, Andi itu cocok buat jadi pacar Faya. Kalian sama-sama cerdas,” Kak Pram menatap Faya sambil tersenyum.
Ditatap seperti itu Faya tersipu malu. “Ah, Kakak. Faya nggak mau pacaran sama Andi Taufan. Faya nggak suka.”
“Nggak suka kok selalu semangat ceritain dia,” Kak Pram mulai menggoda Faya.
“Ih, Kakak ini. Kan Faya cuma pengin cerita aja.” Faya merajuk.
“Lagian kan kalian berdua itu sama-sama unik,” Kak Pram menyodorkan botol saus ke tangan Faya. Omelette sudah datang.
“Yaela. Memangnya apa yang unik dari Faya?” tanya Faya. Kedua tangannya sibuk memotong omelette menjadi potongan-potongan kecil.
“Faya itu udah kelas tiga SMA. Tapi manjanya minta ampun. Itu kan unik,” Kak Pram menertawakan kalimatnya sendiri.
Faya mengunyah omelette sambil cemberut. “Idih. Unik dari Hongkong….”
“Lebih lima tahun Kakak kenal Faya. Selama lima tahun itu Kakak nggak pernah sekali pun dengar Faya menggunakan kata ganti aku, saya, atau gue. Faya selalu menggunakan `Faya`. Bukankah itu unik?” Kak Pram tersenyum lagi. Manis sekali.
Kali ini Faya tertunduk. Tak berani menatap Kak Pram. Pujian apapun dari mulut Kak Pram, sekecil apapun, pasti bisa membuat Faya melayang. Membuat wajahnya bersemu kemerahan.
“Tapi Faya nggak suka Andi Taufan,” akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Faya. Faya suka Kak Pram…. Kalimat selanjutnya hanya bergaung di dalam hati Faya.
* * *
Faya mengemasi alat tulisnya yang berserakan. Bibirnya tak luput dari senyum. Sore ini Kak Pram akan menjemputnya di sekolah. Ia akan mengajak Faya ke Perpustakaan Freedom. Faya luar biasa senang.
“Heh, senyum mulu.” Andi sudah berdiri di depan meja Faya.
Faya meleletkan lidahnya. “Biarin. Lagi seneng kok.”
“Pasti karena mau dijemput cowokmu itu ya?” Andi mencibir.
“Kak Pram bukan cowok Faya.” Meja Faya sudah rapi sekarang. Ia membenahi poni dan rambutnya sekali lagi.
“Bukan cowoknya kok selalu semangat ceritain dia,” Andi mendengus.
Faya tercenung. Kalimat yang baru saja didengarnya terasa begitu familiar.
“Selamat pacaran ya,” suara Andi meninggi beberapa oktaf.
Faya tertegun sembari memandangi punggung Andi yang kian menjauh.
* * *
“Faya bisa menulis di sini. Bawa netbook, duduk di salah satu sudut. Pasti dua cerita bisa ditulis di sini,” Kak Pram tersenyum pada Faya.
Faya memandangi perpustakaan Freedom itu dengan takjub. Buku tertata rapi di rak-rak raksasa yang menempel di dinding. Berbagai bentuk kursi beserta meja tersedia. Bahkan sofa pun ada di salah satu sudut ruang.
Nyaman. Menyenangkan. Mata Faya berbinar-binar. “Terima kasih, Kak. Kak Pram tahu, jika ada malaikat yang jatuh terpeleset ke bumi, maka malaikat itu adalah Kak Pram. Seorang Pramono yang sekarang berdiri di depan Faya.”
“Huahahah,” Kak Pram terbahak-bahak. “Dasar penulis cerita. Tukang gombal!”
Wajah Faya memerah. Baru kali ini Faya kelepasan bicara seperti itu pada Kak Pram. Selama ini perasaannya pada Kak Pram hanya ia tuangkan di dalam cerita yang ditulisnya. Ia tak pernah bercerita pada siapa pun. Tidak pada Ayah. Tidak pada Bunda. Tidak pada siapa pun.
Itu kenapa Faya suka menulis. Faya suka menumpahkan imajinasi dan perasaannya ke dalam cerita. Selama Faya mengenal Kak Pram, sudah tak terhitung lagi cerita yang ia tulis dengan tokoh utama Pramono. Tentu saja nama dan cerita selalu berubah. Pernah Faya menulis cerita tentang Pangeran Pam-pam dari negeri dongeng yang jatuh cinta pada Puteri Kerajaan bernama Fa-fa. Lain waktu pernah Faya menulis cerita tentang Pengeran Kegelapan Pramon yang kemudian terbebas dari kutukan berkat pertolongan Fay, seekor kucing cantik.
“Woi, melamun!” suara Kak Pram mengagetkan Faya. “Mengarang ceritanya nanti saja. Sekarang kita makan. Perpustakaan ini juga ada kafenya.” Kak Pram menggandeng tangan Faya.
Jantung Faya berdegup lima kali lebih cepat. Kakinya bergerak mengikuti irama langkah kaki Kak Pram. Tangan kanannya masih berada dalam genggaman tangan kiri Kak Pram. Membuat Faya tak bisa berpikir. Faya sibuk menenangkan degup jantungnya.
Tiba-tiba saja Faya sudah duduk berhadapan dengan Kak Pram di kafe yang terletak di dekat perpustakaan. Gerakan tangan di depan wajah Faya membuatnya terkaget-kaget.
“Melamun apa sih?” Kak Pram berusaha menyembunyikan senyum gelinya.
Faya merasa jengah. “Kak Pram mau pesan apa?” ujar Faya seraya meraih daftar menu yang diletakkan di meja oleh waiter.
Kak Pram tertawa terbahak-bahak. “Tumben Faya nawarin mau pesan apa.”
“Nggak lucu,” Faya salah tingkah. Bibirnya mengerucut cemberut.
“Melon juice, iced coffee, chicken steak dan tuna sandwich,” sahut Kak Pram tanpa melihat menu.
“Makan sebanyak itu?” Faya terbelalak.
“Untuk Kakak dan Faya.”
“Idih. Pede amat pesenin Faya. Emang Faya bakalan suka?” bibir Faya mengerucut lagi.
“Faya pasti akan makan apa pun yang Kak Pram pesan, kan? Faya pasti suka pilihan Kakak,” Kak Pram tersenyum memandangi Faya.
Wajah Faya memerah lagi. Sudah lebih lima tahun Faya mengenal Kak Pram. Tapi rentang waktu yang lumayan lama itu tak mampu membuat Faya terbiasa dengan pujian dan tatapan Kak Pram. Jika Kak Pram melakukan dua hal itu, memuji dan menatapnya, wajah Faya pasti akan memerah. Jantungnya pasti berdegup lebih kencang. Dan hatinya akan menghangat. Selalu seperti itu selama lebih lima tahun ini.
“Kakak ingin bicara sesuatu sama Faya. Biasanya kan Faya yang cerita, sekarang Kak Pram ya,” suara Kak Pram terdengar ringan.
Faya tersenyum lebar. “Siap, Jenderal.”
Cerita pun berhamburan dari mulut Kak Pram. Kali ini Kak Pram menceritakan kisah Pangeran dan Puteri yang akan menikah. Mereka memilih pesta kebun dan baju pengantin internasional. Yang simple. Yang chic. Yang tetap romantic.
Imaji Faya berlari meninggalkan ruang waktu. Pangeran Pam-pam dan Puteri Fa-fa akhirnya menikah. Dalam balutan gaun yang simple dan chic, Puteri Fa-fa berkeliling menyalami semua tamu yang datang. Tangan kanannya melingkar di lengan Pangeran Pam-pam. Puteri Fa-fa merasa bahagia sekali. Bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan senyum.
* * *
Semalam Faya bermimpi indah sekali. Ia dan Kak Pram menikah. Kak Pram yang Faya kagumi selama lima tahun ini, yang Faya sayangi sepenuh hati, ternyata juga mencintainya. Apa yang lebih indah dari itu? Faya menyisir rambutnya sambil tersenyum.
“Faya, ayo cepat.” Suara Ayah membuat Faya tersentak.
Faya setengah berlari keluar kamar. Di ruang tengah dekat kamar Faya, Ayah dan Bunda sudah berdiri lengkap dengan tas kerja dan kotak makan.
“Sarapan di mobil aja biar Ayah nggak telat,” ucap Bunda sambil mengulurkan kotak makan berisi sandwich kesukaan Faya.
“Makasih, Bun. Nanti Faya makan di sekolah aja. Nggak sempat kalau di mobil,” Faya mengecup pipi Bunda dan berlari mengejar Ayah.
“Gimana ketemuan sama Pram kemarin?” tanya Ayah saat mobil sudah mulai berjalan.
Mata Faya berbinar mendengar nama Kak Pram disebut. “Kak Pram baik-baik saja, seperti biasanya.”
“Pramono itu orang yang sangat baik. Beruntung keluarga kita mengenalnya. Sayang saat Faya kelas tiga, Pram malah nggak bisa kasih les ya. Pekerjaannya memang semakin berat. Tapi itu pun sudah lebih dari cukup, membimbing Faya selama lima tahun,” Ayah bercerita tentang Kak Pram. Dan itu membuat Faya senang.
Mobil berhenti di lampu merah. Ayah menengok ke arah Faya. “Pram mau menikah.”
Senyum Faya semakin lebar. Iya, Ayah. Faya tahu. Seru Faya dalam hati.
“Calon istrinya pastilah sangat beruntung mendapatkan suami seperti Pram,” Ayah memutar setir ke kanan. Klakson terdengar memekakkan telinga.
Iya, Ayah. Faya memang beruntung, lanjut Faya dalam hati. Ia masih tersenyum lebar.
“Faya nggak mau lihat undangannya?” sekarang ganti Ayah yang terlihat tak sabar. Dipencetnya klakson dua kali. Metromini di depan berhenti sembarangan di tengah jalan.
“Undangan?” kening Faya berkerut. Ia tak mengira Kak Pram bahkan sudah mencetak undangan. Seingatnya pembicaraan mereka baru sampai pada busana pengantin dan konsep pesta kebun.
“Iya, itu ada di jok belakang. Di bawah tas Ayah,” sahut Ayah tanpa menengok. Konsentrasi Ayah terpusat ke depan. Sekolah Faya sudah terlihat.
Masih dengan kening berkerut, Faya mengambil undangan berwarna marun di bawah tas kerja Ayah. Tangannya tiba-tiba bergetar saat matanya menangkap tulisan Pramono & Pramesti. Faya berusaha menenangkan hatinya. Kata-kata Ayah sudah tak lagi didengarnya. Faya membaca lagi nama di undangan marun itu. Barangkali saja ia salah lihat. Pramono & Faya. Seharusnya itu.
Satu. Dua. Tiga.
Tiga kali Faya membaca nama pengantin di undangan. Dan tetap saja tertulis Pramono & Pramesti.
“Faya. Faya…,” suara Ayah membuat Faya tersadar.
“Ya?” seperti orang linglung, Faya memandang Ayah.
Kening Ayah berkerut. “Sudah sampai, Faya Sayang.” Mata Ayah melirik gerbang sekolah.
Faya tergeragap.
“Faya baik-baik saja?” Ayah tampak cemas.
“Eh iya, Ayah. Iya, Faya baik-baik saja.” Faya cepat-cepat mencium pipi Ayah, lalu melompat turun dari mobil. Faya melambaikan tangan kanan sebelum berjalan cepat ke arah sekolah.
Tak sampai sepuluh langkah, air mata Faya tumpah. Kakinya masih terus melangkah. Tangan kanannya bergetar menggenggam undangan marun itu. Ah, Faya tak tahan lagi. Ia berlari cepat ke kamar mandi. ***
*Dimuat di majalah Gadis No. 28 (21-31 Oktober 2011)
Jempol! :)
wow keren. :D keep them coming gan!
Kasihan ya akhirnya patah hati :(