percaya atau tidak, belakangan ini rasa percaya diri saya kosong melompong. zero zero zero. rasa percaya diri itu menguap entah ke mana. tak tersisa sedikit pun.

cobalah lihat saya. yeah, tiga bulan di bali naik tujuh kilo. woaaa. prestasi yang hebat bukan? #sigh. celana kerja saya nggak ada yang muat. tiap hari saya pakai celana yang ada kolornya. hedeeehhh.

udah gitu wajah saya jerawatan. satu biji, besar sangat, di jidat pula. lalu beberapa di dagu. lalu ada juga bekas jerawat. belum lagi komedo. bagooosss. dengan badan segede gaban dan muka penuh jerawat, mana berani saya naksir cowok? ah, sial. baru kali ini saya nggak berani naksir cowok.

oya, tadi bang topan menelpon saya. iya, bang topan yang itu. yang brewokan. yang eksotis. (eh, ini ngomongin bang topan atau simpanse, sih?). dan salah satu pertanyaan yang dilontarkan adalah: “tien, lu lagi naksir siapa?”

apakah itu berati bang topan naksir saya? jatuh cinta gitu makanya dia ingin tau saya lagi naksir siapa. well, tentu saja tidak. bang topan hanya mencoba menjadi teman yang baik. yang peduli akan kehidupan cinta temannya ini. yeah. begitu.

lalu pertanyaan itu saya jawab dengan: “lagi nggak naksir siapa-siapa, bang.”

dan bang topan pun merespon, “belum terlambat, tien, kalau elu mau mengubah orientasi.”

ebuset dah. mengubah orientasi seksual gitu? heyaaaa. bang topan ini nakal juga. ckckck.

balik ke yang tadi. contoh barusan itu hanya tentang ketidakpercayaan diri saya dalam menaksir cowok. belum dalam hal lain.

suatu malam, pernah saya menangis heboh di telpon. saya mengadu ke yani, memberitahunya bahwa saya sedang sedih yang teramat sangat karena ada teman yang takut sama saya. yang takut saya meledak tiba-tiba. yang dengan alasan itu dia kemudian menjaga perasaan saya sedemikian rupa. dan itu malah membuat saya merasa seperti monster.

lalu ada teman yang bilang bahwa seharusnya saya tidak perlu memberitahu setiap orang yang baru saya kenal bahwa saya menderita bipolar disorder. sama seperti halnya jika seseorang itu menderita maag. nggak perlu kan kasih tau semua orang kalau sakit maag?

saya betul-betul menangis heboh malam itu. saya sedih sekali. saya pikir saya bakalan mendapatkan beberapa sahabat lagi. sahabat yang seperti yani. tapi ternyata saya harus kecewa. well, yani tak pernah takut sama saya. yani juga tak pernah menganalogikan bipolar disorder dengan maag.

setelah tau saya menderita bipolar, setelah berkali-kali melihat saya meledak, dan bahkan setelah saya melukai perasaan yani, mata yani tak pernah berubah. mata di sini dalam arti literal. benar-benar mata yani. cara yani memandang saya tak berubah sedikit pun. dan yang paling penting, tak ada rasa takut terpancar dari matanya.

alih-alih merasa takut, yani memberikan hadiah sebuah buku tentang penderita bipolar. ah, kadang saya curiga yani itu malaikat yang terpeleset jatuh ke bumi.

sejak insiden nangis heboh itu, saya tak pernah mau diajak ngumpul-ngumpul. bahkan saat saya diajak teman-teman prajab nonton wayang bareng-bareng, saya dengan tegas menolak. saya juga nggak berani bertemu siapa pun. saya hanya berani bertemu dengan teman-teman yang saya yakin tak punya rasa takut di mata mereka saat mereka menatap saya.

saya tidak percaya diri untuk berteman dengan siapa pun (yeah, kecuali mereka yang sudah sangat dekat dengan saya). saya hanya akan membuat teman-teman baru itu kikuk dan takut. tersiksa sekali kan berteman dengan saya? #sigh.

jika kalian menganggap saya lebay, well, nggak apa-apa. tak apa jika kalian tak mengerti. berati kalian normal. jika kalian betul-betul mengerti perasaan saya, wah… saya malah akan mencurigai kalian sebagai orang-orang yang sama nggak normalnya kayak saya. haha.

lalu, masih ada hal lain yang membuat saya tak percaya diri. ini tentang menulis. sudah berapa juta kali saya terima surat penolakan dari penerbit? sekian juta sekian ratus sekian puluh kali mungkin. saya tak mau mengingatnya. karena dada ini selalu saja sesak kalau ingat.

pendek berulangkali menggoda saya tentang ini. “kan biasa ditolak cowok. ini kan cuma ditolak penerbit.”

yeah, ditolak penerbit itu lebih menyakitkan daripada ditolak cowok. percayalah.

tapi kalian tau, Tuhan memang maha segala. liat contoh di atas, kan? di saat sebagian besar teman takut sama saya, toh masih ada satu teman yang malah mendekati saya. yang memberikan perhatian begitu besar. yang dengan tulus menyayangi saya.

dan siang tadi, Tuhan menunjukkan lagi satu bukti bahwa Dia memang maha segala. ada satu inbox di fb yang setelah saya klik ternyata dari mbak sensi. yang belum tau, mbak sensi itu a best friend of mine while i was in jogja.and she is still one of the best friends i have now.

tau nggak apa yang dikirim mbak sensi di inbox? link ini:

http://id.she.yahoo.com/ditolak-penerbit-lokal-novel-mahasiswa-bandung-sukses-di-090535231.html

ah, saya langsung nangis saat membaca itu. Tuhan memang keren. kalian tau, saya tak pernah bercerita pada mbak sensi tentang penolakan-penolakan penerbit itu. bahkan saya tak cerita ke yani. tapi toh siang tadi mbak sensi mengirim inbox itu. dia tak menulis apa-apa selain link itu. tapi itu sudah cukup menjelaskan segalanya.

mbak sen tidak ingin saya menyerah begitu saja. mbak sen ingin saya meneruskan mimpi saya. tetap berjuang, berusaha lebih keras, dan berjanji untuk tak akan pernah kehilangan semangat.

ah, semangat. nggak boleh hilang ya? percaya diri saya sudah kosong melompong. masak iya semangat saya ikutan melompong juga. hehe.

mmm, memang susah sih to keep my spirits up. tapi kali ini saya berjanji akan melakukannya. tidak untuk diri saya sendiri. tapi untuk mbak sensi, yang sejak 2004 setia menemani saya bermimpi.

When the night falls on you

You don’t know what to do

Nothing you confess

Could make me love you less

[I'll stand by you; Glee version]

-pic-

Advertisement