Anak Jejak Hujan

Cerpen Swistien Kustantyana

 Rumah Dunia, Serang

“Aku terlahir dari sebuah jejak hujan,” ulangnya pelan. Senyum yang tadi diberikannya untukku mulai memudar. Mata teduhnya menatapku.

“Sebuah jejak hujan?” sahutku masih tak mengerti. Keningku berkerut.

Dia hanya mengangguk. Aku balas menatap laki-laki bermata teduh di depanku.

Dia bernama Arya. Laki-laki yang mengaku terlahir dari sebuah jejak hujan, terselip di rerimbun ilalang dan cemas mencari Tuhan. Detik dia mengucapkan kalimat itu, dia langsung memiliki seluruh perhatianku.

“Sebentar, aku masih tak mengerti.” Kutarik kursiku mendekat ke kursi Arya. Memandang wajahnya yang sederhana dari jarak sedekat ini membuat hatiku menari kegirangan. “Terlahir dari sebuah jejak hujan? Mana mungkin? Apakah maksudmu dua buah jejak hujan? Mungkin mereka bertemu dan membuahkanmu di tengah hutan. Tapi sebuah jejak hujan?” Aku menarik napas. “Sepertinya tak mungkin. Kecuali jejak hujan itu serupa Perawan Maria.”

Arya tertawa. Mata teduhnya kini memancarkan binar. “Bagus sekali idemu, menganalogikan jejak hujan dengan Perawan Maria.”

Aku menikmati binar yang dipancarkan mata Arya.

“Hujan…. Hujan itu kan air. Dan air itu sumber kehidupan. Nah, jejak, berarti airnya sudah tidak ada. Adanya cuma jejak. Jadi, kosong. Absurd. Kehilangan makna. Itu berarti harapan untuk sebuah hidup. Sebuah makna.”

Aku menggaruk kepalaku. Arya terbahak. “Terlalu absurd, ya?” Sekarang dia mengulum senyum. “Dan terselip di rerimbun ilalang itu seperti tersesat di belantara bahasa, di tengah semesta.”

“Lalu, cemas mencari Tuhan?” Kuperhatikan wajah Arya sekali lagi. Aku sama sekali tak mengerti kenapa dia harus cemas dan kenapa dia harus mencari Tuhan. Bukankah sudah jelas, dia punya Tuhan dan selama ini dia mempercayai Tuhannya.

Arya mengembuskan asap rokoknya. Matanya bergerak menyusuri serombongan perempuan peserta workshop hari ini. Mataku mengejar matanya. Dan berhenti pada rombongan itu. Sekitar sepuluh orang perempuan dengan kerudung berbagai warna sibuk berceloteh.

“Hmm, cemas mencari Tuhan,” Arya membuka kotak rokok baru dan menyulut sebatang rokok lagi. “Tuhan, beri aku perempuan. Perempuan, beri aku Tuhan. Perempuan itu manifestasi keindahan Tuhan.” Arya mengembuskan lingkaran asap ke udara dan menatapku. Sekali lagi, senyum sederhananya diberikan untukku.

Aku balas tersenyum. Persetan dia bicara apa sejak tadi. Yang kutahu kini dia sudah memiliki seluruh hatiku.

Kosku, Jakarta

Aku berlari menembus hutan. Kakiku yang telanjang berkecipak dalam kubangan. Sisa-sisa hujan masih sangat jelas terlihat di sini. Jejak hujan ada dimana-mana. Tapi aku tak yakin, jejak hujan yang manakah yang telah melahirkan Arya. Pun aku tak punya sedikit keinginan untuk menanyai satu per satu jejak hujan itu. Lariku terhenti mendadak. Beberapa meter di depanku berdiri Arya dengan hanya berbalut hujan. Aku tertegun. Mataku terpaku ke sosoknya yang kali ini terlihat begitu memesona. Arya tersenyum. Tangannya terulur ke arahku. Aku menyeringai gembira. Aku berlari lebih cepat untuk bergabung dengannya dalam balutan hujan.

Lariku terhenti lagi. Bayangan Arya menguap hilang bersama hilangnya bayangan hutan dan hujan. Kini aku berdiri di antara rimbunan ilalang. Aku tak bisa berlari lagi. Kuseret langkahku mencari Arya. Lalu, kutemukan dia di arah tenggara. Dia melambai. Arya masih saja memesona, meskipun tanpa balutan hujan. Aku berlari lagi. Dan, sial. Dia menghilang.

Anak Jejak Hujan itu kini menjelma menjadi udara. Aku mendesah. Rasanya, aku benar-benar tak bisa hidup tanpa Arya. Kini, udaraku hampir habis. Aku mulai sesak. Aku mulai sekarat. Aku harus merengkuh Arya secepatnya. Aku harus bernapas dengannya. Dengan udara. Dengan Arya. Aku tak ingin mati.

Aku bangun terengah-engah. Kuseka keringat yang meleleh di dahiku. Kuambil botol air mineral di meja samping tempat tidur. Kuteguk isinya perlahan-lahan. Keparat. Empat malam ini aku memimpikan Arya. Tanpa henti. Dan itu membuatku gila. Arya, si Anak Jejak Hujan itu, betul-betul membuatku gila.

Kontrakan Arya, Serang

Aku tak tahan lagi. Kuputuskan hari ini aku ke Serang. Cuti kerja dengan alasan sakit pun kulakukan. Saat ini Arya segalanya. Dia udaraku. Dan jika hari ini aku tidak menemuinya, tidak menghirupnya, aku yakin besok aku akan berakhir di lubang kuburan.

Aku duduk gelisah di dalam bus yang membawaku ke Serang. Imajinasiku menari bersama Arya. Aku bertemu dengannya Sabtu sore lalu. Dan aku hanya butuh waktu empat malam untuk tahu bahwa aku jatuh sejatuh-jatuhnya ke dalam pelukan cinta Arya. Gila? Mungkin saja. Toh dimana-mana cinta itu memang gila. Dan untuk seorang Arya, cinta gila ini patut diperjuangkan.

“Untirta…! Untirta…!” Kondektur bus berteriak.

Aku mengangguk ke arahnya. Kurapikan sedikit rambutku yang pasti sudah berantakan. Wajahku pastilah sudah tak karuan. Tapi ah peduli setan. Yang penting aku bertemu Arya.

Dia duduk di atas motornya dengan helm berwarna abu. Senyumnya mengembang begitu melihatku. Tangannya melambai. Energinya yang meluap membuatku semakin bersemangat.

“Capek, ya?” Arya mengulurkan sebuah helm.

Aku mengangguk dan menerima helm itu. Sebentar kemudian kami sudah melaju menuju kontrakan Arya.

Kami tiba di sebuah rumah sederhana. Aku duduk di salah satu kursi di teras. Ranselku kuletakkan di samping kursi. Arya pergi ke dalam rumah dan keluar dengan dua gelas dan satu botol besar air mineral.

“Coba ceritakan kenapa kamu bernama Alba. Ayahmu tukang reparasi jam, ya?” Arya duduk sambil menuang air ke dalam gelas.

“Haiyahhhh. Tukang reparasi jam! Sial!” mulutku mengerucut cemberut.

Arya tergelak. Diulurkannya segelas air itu. Aku menerimanya dan langsung meneguk isinya hingga habis.

“Dasar onta,” kata Arya sambil menunjuk gelasku yang kosong.

“Biar. Onta anak tukang reparasi jam, kan?” cibirku.

Arya tergelak lagi.

“Kalau dalam buku karya Audrey Niffenegger, Alba artinya kota putih. Benteng yang tak bisa ditembus, di atas bukit putih. Alba seorang penjelajah waktu, sama seperti ayahnya, Henry DeTamble,” kataku ceria sambil menatap Arya yang sedang tekun menyimak.

“Buku itu ditulis tahun berapa?”

“2003.”

“Jadi tak mungkin ayahmu baca buku itu dan terinspirasi dengan nama Alba, kan?” Arya tersenyum.

“Memang nggak. Aku sudah ikhlas, pasrah, tabah, ayahku itu tukang reparasi jam. Itu kenapa namaku Alba,” cengiran lebar muncul di wajahku. Tawa Arya pecah berhamburan.

Benteng Surosowan, Banten Lama

Sore ini aku kembali ke Serang. Aku sudah berhenti menghitung berapa kali hari Minggu yang kuhabiskan bersama Arya di Serang. Itu menjadi tak begitu penting. Yang penting, sekarang aku tahu perasaanku akan melonjak girang saat aku bersama Arya. Bagiku Arya sudah menjadi semacam zat adiktif. Yang memacu adrenalin dan membuatku melayang tinggi saat aku bersamanya.

Arya menghentikan motornya di dekat semacam pondasi besar yang dibuat dari tumpukan batu dan bata. “Itu apa sih?” tunjukku ke arah batu dan bata itu. Tapi aku tak benar-benar mendengarkan jawaban Arya karena aku sudah sibuk mengambil foto-foto di sekitar Benteng Surosowan. Entah kenapa benteng ini mengingatkanku pada Benteng Marlborough di Bengkulu.

“Sayang sekali pemerintah nggak serius ngembangin benteng ini ya,” komentarku sambil melihat ke sekeliling benteng. “Kotor banget. Sampah dimana-mana. Coba kalau dikelola beneran. Wah, pasti nggak kalah sama benteng Marlborough di Bengkulu!” Celotehku lagi.

“Kamu tahu nggak batu dan bata itu direkatkan pakai apa?” Arya tak menggubris kritikanku tentang keberadaan tong sampah di Benteng Surosowan.

“Enggak tahu.”

“Dari putih telur.”

“Haaaa?” Aku menatap Arya tak percaya. “Serius?”

“Iya,” Arya mengangguk. Senyumnya yang selalu bisa membuatku meleleh itu terkembang sekarang.

“Jaaahhh. Berapa banyak telur yang dibutuhkan kalau gitu?” Penasaran aku dibuatnya.

“Entah. Yang pasti nggak cukup dua kilo.” Seloroh Arya.

Aku terbahak.

Jika hidupku itu seperti sebuah puzzle besar, maka Arya adalah kepingan terakhir yang kubutuhkan untuk membuatnya lengkap dan sempurna.

Kontrakan Arya, Serang

Sejak siang tadi Arya bertingkah aneh. Jika biasanya kami sibuk bertukar cerita, hari ini Arya lebih banyak diam. Matanya bergerak-gerak dan sesekali mencuri pandang ke arahku. Tanganku sibuk mengipas-ngipas dengan beberapa lembar kertas yang kulipat.

“Kamu kenapa, sih?” tanyaku gemas. Aku tak tahan lagi.

“Mmm, Alba, aku mau ngomong.”

“Jaelah. Perasaan udah ngomong deh dari tadi. Haloooo.”

“Serius,” Arya menarik tanganku, memintaku untuk tenang.

“Apa?” Ketusku.

“Aku nggak mau hubungan kita berlanjut lagi,” ucapnya lemah.

“Ha?” sumpah mati aku terkejut. “Maksudnya?” aku benar-benar berharap aku salah dengar.

“Dengar, Alba. Menurutku lebih baik kita jalan sendiri-sendiri mulai sekarang. Aku nggak pantas buat kamu. Coba lihat kamu. Pekerja kantoran di Jakarta. Sedangkan aku, aku bukan siapa-siapa. Aku cuma mahasiswa tingkat akhir yang sering malas mengerjakan skripsi.”

Bullshit.” Aku merasa marah sekali.

Kupandangi Arya. Dia menunduk. Diam.

“Eh, dengar ya. Kalau aku seperti Jupe, Gaston pasti udah jatuh cinta sama aku. Dan aku nggak merasa perlu untuk buang waktu dan energi buat naksir cowok kayak kamu!” Teriakku kalap. Melihat Arya yang tak bereaksi membuatku semakin marah. Aku berdiri dan memandang Arya yang sekarang memberiku tatapan sayu.

“Tapi nyatanya enggak, kan? Aku bukan Jupe. Wajahku biasa aja. Semuanya biasa aja. Dan aku cuma cewek biasa yang kebetulan pegawai kantoran di Jakarta dan kebetulan pula jatuh cinta sama cowok tolol yang merasa dirinya nggak pantas untuk aku!” Semburku, sarat emosi.

Aku mulai menangis. Dadaku sesak. “Atau sebetulnya alasannya bukan itu? Apa, hah? Karena aku lebih tua empat tahun dari kamu? Atau karena ada cewek lain yang lebih muda, lebih pintar, lebih cantik, lebih segalanya dan saat ini dia juga berharap sama kamu?” aku mencengkeram kaos Arya.

“Oke. Aku pergi.” Seruku saat Arya tetap saja tidak bereaksi. “Kamu memilih untuk diam. Untuk tidak bereaksi. Aku hormati itu. Tapi, asal kamu tahu, aku betul-betul sayang kamu, Arya.” Aku menyeka lelehan yang terus saja keluar. Kuambil tasku di samping kursi. Aku melangkah pergi.

Arya sama sekali tidak berusaha menghentikanku.

Dalam bus Serang – Jakarta, tak sedetik pun aku berhenti menangis. Aku kalah. Aku lelah. Aku menyerah. Cinta ini terlalu gila untuk kupertahankan.

Starbucks Thamrin, Jakarta

“Caramel Machiatooo. Hazelnut Frappuccinooo…!” teriakan barista membuyarkan lamunanku. Kuambil tumblerku dan tersenyum, “terima kasih.”

Kulangkahkan kaki ke meja yang tersembunyi dari pandangan banyak orang. Sore ini aku berterimakasih pada partisi yang menyekat meja ini. Aku tak perlu membagi perhatianku pada yang lain. Yang perlu kulakukan hanyalah duduk, menikmati satu tumbler kopi dan menikmati rinduku pada Arya yang sudah menggunung.

Sudah empat kali hari Minggu aku tak pernah lagi melangkahkan kakiku ke Serang. Aku sudah tak bisa lagi menelan berlapis-lapis kekecewaan jika yang akan kutemui di sana hanyalah penolakan Arya. Arya udaraku. Bagaimana bisa aku bernapas normal setelah dia tak ada?

Dan sejak hari itu aku selalu menantikan hujan. Aku akan sibuk mengamati jejak yang ditinggalkan saat hujan pergi. Berusaha menemukan Arya di antara jutaan jejak hujan itu. Siapa tahu salah satu jejak hujan membawa anaknya. Arya, si Anak Jejak Hujan.

“Alba.”

Mataku masih terpejam dan otakku masih sibuk memutar kenanganku bersama Arya saat suara itu terdengar. Sesaat aku mengira aku berhalusinasi. Mungkin karena aku terlalu merindukan Arya.

“Alba.”

Mau tak mau aku membuka mata. Dan di sinilah dia berada sekarang. Anak Jejak Hujan itu berdiri di depanku. Di sini. Di Starbucks. Di Jakarta. Aku mengerjapkan mata. Berharap Arya hilang dalam sekejap. Dan dugaanku akan halusinasi terbukti benar. Tapi dia masih saja berdiri di depanku.

Kemudian aku berdiri. Kami berdiri berhadapan. Kuangkat tangan kananku. Kutelusuri wajahnya yang sederhana. Yang dulu begitu membuatku jatuh cinta. Mataku menghangat. Aku sungguh merindukan Arya.

Arya menarikku ke dalam pelukannya.

Jika memang Arya kepingan terakhir itu, aku akan meletakkannya dengan benar dalam puzzleku dan tak akan pernah membiarkannya hilang lagi.

Jakarta, April 2010.

*Dimuat di Antologi Gilalova-Segila-gilanya Cinta

Anak Jejak Hujan